Cara Budidaya Padi Sistem SRI Untuk Pemula

Cara Budidaya Padi Sistem SRI – SRI pertama dikembangkan di Madagaskar oleh seorang Pastor Jesuit yang berasal dari Prancis, Fr. Henri de Laulanie, SJ. Dia mempublikasikan suatu metode hasil temuannya di tahun 1983.

Cara Budidaya Padi Sistem SRI Untuk Pemula
Cara Budidaya Padi Sistem SRI Untuk Pemula

Metode yang ditemukannya ini kemudian disebut dengan Ie Systme de Riziculture Intensive (Perancis) yang dalam bahasa Inggris lebih populer menjadi System of Rice Intensification (SRI). Lantas bagaimana cara budidaya padi sistem SRI?

Baca Juga : Fungsi dan Manfaat Penting tRNA

Langkah budidaya padi organik menggunakan metode SRI

Padi selama ini terbagi atas dua jenis yaitu padi gogo dan padi sawah. Perbedaan keduanya terletak di ada atau tidaknya pasokan air. Untuk sekarang ini pembahasan lebih fokus pada metode SRI yang diterapkan untuk budidaya padi sawah.

Padi dengan jenis ini tumbuh di ketinggian 0-1500 meter dpl. Temperatur yang dibutuhkan berkisar pada 27 derajat Celcius dan harus selalu mendapatkan cahaya matahari penuh tanpa adanya naungan.

Angin sangat berpengaruh terhadap pembuahan dan juga penyerbukan. Padi sawah harus berada pada tanah berlumpur yang subur, ketebalannya antara 18-22 cm dengan pH tanah 4 hingga 7.

Proses penyemaian

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam pembudidayaan padi organik yaitu menyemai benih. Silahkan Anda lakukan seleksi benih untuk mendapatkan benih yang benar-benar berkualitas. Untuk benih padi yang Anda gunakan pada sawah seluas 200 meter persegi kira-kira sebanyak ½ kg.

Sistem pengujian benih yang dimasukkan dalam air juga dapat Anda gunakan untuk mengetahui kualitasnya. Padi yang tenggelam artinya berkualitas dan benih mengapung sebaiknya tidak Anda pilih. Biasanya benih yang mengapung itu telah tumbuh atau kopong (kosong).

Benih yang sudah melalui proses pengujian kemudian direndam menggunakan air biasa selama 24 jam, tiriskan dan peram 2 hingga 3 hari pada tempat yang lembap hingga calon tunas keluar. Semai benih tersebut pada media tanah dan berikan pupuk kompos sekitar 10 kg.

Setelah berusia semai 7 hingga 12 hari benih padi sudah siap untuk segera Anda tanam ke lahan yang sudah Anda siapkan. Penting untuk Anda ingat bahwa benih yang ditanam jangan sampai melebihi 12 hari karena akan lebih sulit beradaptasi.

Sistem pengolahan lahan

Pengolahan lahan dalam penerapan cara budidaya padi sistem SRI dilakukan dengan dicangkul atau dibajak. Biasanya akan dilakukan minimal 2 kali pencangkulan atau pembajakan yaitu pembajakan kasar dan halus yang diikuti pencangkulan.

Sehingga total pengolahan lahan selama 2 hingga 3 hari. Kemudian aliri dan rendam lahan tanam dengan air sawah selama 1 hari. Pastikan keesokan harinya semua benih yang telah Anda semai siap ditanam yaitu sudah mencapai usia 7 hingga 12 hari.

Proses penanaman

Sebelum ditanam sebaiknya lakukan pencaplakan atau pembuatan jarak tanam. Jarak yang baik dari tanaman padi sistem SRI adalah sekitar 25 x 25 cm atau dapat juga 30 x 30 cm. Sehingga penanaman seharusnya diberikan dengan jarak tanam yang memiliki jarak tidak begitu rapat atau terlalu longgar.

Perawatan tanaman

Hal yang paling penting dalam perawatan budidaya padi organik dengan sistem SRI adalah menjaga aliran air agar sawah tidak terus menerus tergenang tetapi cukup pengaliran air.

Oleh karena itulah para petani biasanya melakukan control, kemudian melakukan penutupan maupun membuka pintu aliran air secara teratur. Sehingga air yang mengaliri lahan sawah yang digunakan sebagai media dari penanaman padi menjadi lebih terkontrol dengan baik.

Untuk pemupukan umumnya dilakukan 20 hari setelah penebaran benih. Pupuk yang digunakan yaitu kompos dengan takaran sekitar 175 hingga 200 kg. Saat dilakukan pemupukan sebaiknya lahan sawah dikeringkan dengan kondisi pintu air tertutup.

Setelah 27 hari masa penebaran, aliri sawah dengan metode bergilir antara basah dan kering. Sementara hama yang seringkali menyerang sawah atau tanaman padi adalah walang sangit, burung, wereng serta penyakit ganjuran (daun menguning).

Metode penanganan hama tersebut biasanya dilakukan secara manual, membuat orang-orangan di tengah sawah akan membantu mengusir burung, mulai penyemprotan pestisida hayati seperti kipait, nanas dan bawang putih hingga mencabut sekaligus membakar tanaman yang sudah terserang jenis penyakit daun menguning.

Pencegahan yang seharusnya dilakukan adalah penanaman serentak. Ini dilakukan agar penyakit dan hama tidak datang. Selain itu dilakukan juga pengaturan air yang lebih baik, penggunaan bibit sehat hingga melakukan sistem budidaya tanaman sehat dengan kandungan vitamin dan nutrisi sehingga kekebalan tanaman semakin tinggi.

Jenis hama lainnya yang perlu diwaspadai jika Anda menggunakan cara budidaya padi sistem SRI ini adalah thrips, hama putih, walang sangit, wereng, kepik hijau, tikus, penggerek batang padi dan juga burung.

Sementara untuk penyakit yang sangat rawan menyerang adalah penyakit bercak daun yang berwarna coklat, busuk pelepah daun, penyakit blast, penyakit kresek yang dikenal sebagai hawar daun maupun penyakit tungro dan fusarium.

Baca Juga : Klasifikasi Dan Morfologi Tanaman Nangka

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!