Cara Budidaya Ulat Hongkong untuk Pemula

Cara Budidaya Ulat Hongkong – Ulat hongkong adalah larva dari serangga dengan nama latin Tenebrio molitor. Ulat ini memiliki panjang hingga 3 cm.

Di Indonesia, ulat hongkong pada awalnya dikenal sebagai pakan ikan hias, namun sekarang ini, banyak dari pemilik burung kicauan dan beberapa hewan peliharaan lainnya memilih ulat hongkong sebagai pakan bagi peliharaan mereka. Ulat hongkong dipilih karena kaya akan kalori dan protein yang dibutuhkan bagi hewan peliharaan, terutama pada burung.

Dengan tingginya minat masyarakat Indonesia dengan burung kicauan saat ini, budidaya ulat hongkong dinilai sangat menguntungkan untuk dijadikan usaha. Artikel di bawah ini akan membahas seputar budidaya ulat hongkong yang mudah bagi pemula.

Pensaran? Yuk, simak penjelasan dibawah ini!

Persiapan

Kandang, media pemeliharaan, bibit dan pakan adalah empat hal utama dan dasar yang harus Anda persiapkan untuk membudidayakan ulat hongkong.

Kandang untuk ulat hongkong sendiri dapat dibuat menggunakan papan triplek yang ukurannya dapat disesuaikan sesuai dengan kebutuhan Anda. Triplek ini kemudian disusun menjadi rak kayu bertingkat dimana jarak antar rak berkisar 10 cm dan dilapisi dengan lakban pada bagian bibirnya agar ulat tidak kabur. Kandang juga dapat berupa container plastik yang dapat Anda temukan di berbagai toko atau swalayan.

Media pemeliharaan bagi ulat hongkong dibuat dari campuran Polard atau dedak halus dan ampas tahu kering. Media yang telah tercampur kemudian dimasukkan ke dalam rak-rak ataupun otainer yang digunakan sebagai kandang dengan ketebalan media sekitar ¼ bagian dari total ketinggian wadah.

Pemilihan Induk

Pertama, pilihlah induk ulat dengan kualitas yang paling baik. Hal ini akan berpengaruh pada hasil budidaya Anda nantinya. Pilihlah indukan dengan bobot tidak lebih dari 2 kg agar saat jadi kepompong tidak terlalu besar ukurannya, dan dengan rata-rata panjang 15 mm serta lebar 4 mm. Ulat hongkong dewasa akan memiliki ukuran rata-rata 15 mm dan diameter tubuh rata-rata 3 mm dan mulai menjadi kepompong sekitar 7 – 10 hari secara bergantian.

Pengambilan Kepompong

Pengambilan kepompong ini dilakukan 3 kali dalam sehari. Gunanya, agar kepompong yang telah dipisah dan ditempatkan pada tempat tersendiri dapat berkembang biak menjadi kumbang secara serentak.

Pemilihan Kepompong

Pemilihan kepompong dilakukan sebanyak 3 kali sehari, sama seperti pengambilan kepompong. Pilihlah kepompong yang telah berwarna putih kecokelatan. Cara pengambilan haruslah hati-hati, jangan menimbulkan cacat ataupun lecet pada kepompong. Lecet dan cacat tersebut dapat membuat kepompong mati dan membusuk nantinya.

Kepompong yang telah dipilih kemudian ditaruh dalam kotak pemeliharaan yang telah diberi alas koran sebelumnya. Kemudian, sebarlah kepompong tersebut dengan hati-hati dan jangan sampai bertumpuk, lalu tutup kembali dengan kertas koran dengan rapat.

Kepompong Berubah menjadi Kumbang

Mulai usia 10 hari, kepompong akan menunjukkan tanda-tanda akan berubah menjadi kumbang. Apabila sayap kumbang masih berwarna kecokelatan, sebaiknya biarkan terlebih dahulu hingga warnanya hitam mengkilat dan kumbang pun siap untuk ditelurkan.

Dalam satu kotak, tebarkan kumbang sekitar 250 gr dan jangan lupa berikan kapas sebagai alas untuk bertelur si kumbang.

Proses pembibitan ini memakan waktu hingga tujuh hari lamanya. Setelah tujuh hari, lakukan penggantian kapas pada kumbang yang telah lepas dari alas kapasnya dan begitu seterusnya. Tingkat kematian pada kumbang mencapai 2 – 4% sekali turun.

Kapas yang telah terdapat telur dari kumbang, simpan terpisah dalam sebuah kotak. Telur-telur ini akan mulai menetas setelah mencapai umur 10 hari sejak ditelurkan oleh induk. Setelah mencapai umur 30 hari, maka kita bisa memisahkannya dari kapas.

Pemberian Pakan

Dalam satu kotak ulat bibit, berikan makanan sebanyak 500 gr dengan interval pemberian pakan empat hari sekali atau sampai makanan benar-benar bersih. Kepalkan pakan menjadi 3 bagian. Hal ini bertujuan agar kepompong yang masih ada tidak akan tertimbun oleh makanan yang dapat menyebabkan kebusukan pada kepompong.

Ulat hongkong sejatinya dapat mengonsumsi apa saja sebagai makanan mereka, mulai dari ampas tahu, batang talas, papaya, sawi, pakan ayam, labu siam dan batang pohon pisang. Pakan ulat dapat ditambahkan dengan pur atau tepung tulang agar ukuran kepompong besar-besar.

Mudah, bukan? Apakah Anda tertarik membudidayakan ulat hongkong? Semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan informasi bagi para pembaca sekalian, ya!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Hayo.. Mau Ngapaiinn